Ruang Publik

Momen Hari Kartini ke 138, TP-PKK Bukittinggi Komit Tingkatkan Emansipasi Wanita dan Perlindungan Anak

HaloBukittinggi : Memperingati Hari Kartini, Pemko Bukittinggi meningkatkan emansipasi wanita dan perlindungan anak, karena hal ini sangat krusial saat ini, sehingga menjadi momen untuk meningkatkan pengembangan kapasitas dan pemberdayaan perempuan serta perlindungan anak.

Nurhuda dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P3APPKB) mengatakan, perempuan Indonesia saat sekarang sudah lebih maju, lebih cerdas. Namun hendaknya perempuan tidak melupakan kodratnya sebagai ibu dan seorang isteri.

“Menghadapi era globalisasi, perempuan Minang sangat diharapkan tetap menjadi idola seperti perempuan Minang zaman dulu yang tetap berpegang teguh dengan adat istiadat dan Agama kita,” ujarnya, Kamis (20/4/2017).

Berkaitan dengan perlindungan anak menurut Nurhuda, Pemko Bukittinggi selalu mensosialisasikan baik itu tentang perlindungan anak, hak anak yang harus dipenuhi, orang tua bukan ibu saja.

“Tidak saja kepada masyarakat dan keluarga yang bersangkutan tapi juga kepada dunia usaha dan elemen kemasyarakatan lainnya. Berkaitan dengan anak yang putus sekolah Pemko Bukittinggi telah pendidikannya lewat paket a b dan c,” terangnya.

Sedangkan bagi remaja putus sekolah sambung Nurhuda, telah ada pelatihan keterampilan di dinas terkait. Nurhuda melanjutkan, yang disebut anak adalah usia 0-18 tahun, belum diberikan izin untuk menikah. Diharapkan pernikahan usia dini tidak terjadi lagi. Sejauh ini jika terjadi kasus pernikahan dini maka diusahakan menyelesaikan sekolahnya dulu baru dinikahkan.

Berkaitan dengan eksploitasi anak Indonesia telah mempunyai Undang-undang tersendiri. Dinas P3APPKB mengharapkan adanya perlindungan terpadu terhadap eksploitasi anak. Tidak saja harus ada perda dari kota Bukittinggi sendiri namun juga perlu kerjasama dari Dinas Tenaga Kerja juga.

Sementara Mira Rossy yang juga dari Dinas P3APPKB menjelaskan, berkaitan dengan emansipasi mengatakan saat ini perempuan sudah banyak yang berkecimpung disemua bidang.

“Semua lini karir sudah banyak diisi kaum perempuan. Namun itu tidak terlepas didikan orang tua zaman dulu yang bagus. Karena itu perlu dilanjutkan dengan pendidikan orang tua sekarang kepada generasi muda selanjutnya yang tidak melupakan kodratnya sebagai perempuan,” tukasnya.

Menurut Mira Rossy, Pemko Bukittinggi sudah cukup banyak melaksanakan program kegiatan berkaitan degan cara asuh dan cara Didik anak yang baik. Yang pertama dilakukan adalah memperkuat perekonomian perempuan tanpa mengabaikan anak dan keluarga lewat industri rumah tangga. Juga kerjasama dengan Dasawisma dan PKK selalu digiatkan dan ditingkatkan.

“Sebenarnya yang diharapkan bukan emansipasi saja, tapi keadilan dan kesetaraan gender. Perempuan dan laki-laki sama-sama menikmati dan dapat mengakses semua hal tanpa diskriminasi dari laki-laki,” terangnya.

Pada kesempatan yang sama Ketua Lembaga Pemerhati dan Perlindungan Anak (LPPA)  Rahmi Yenti mengatakan, perlindungan anak harus melibatkan semua unsur, tidak saja eksekutif juga legislatif.

“Dari pusat sudah ada konsep perlindungan terpadu anak. Perlindungan anak tidak bisa diandalkan kepada pemerintah saja. Harus dimulai dari keluarga dan saat masih dalam kandungan. Ibu hamil jika mengalami tekanan dan stres akan membentuk anak yang susah untuk diarahkan,” jelasnya.

Karena itu sambung Rahmi Yetti, kita tidak bisa membiarkan ibu hamil dengan keadaan seadanya yang membuat potensi anak tidak bisa berkembang. Setelah lahir pun harus diperhatikan apa yang diberikan kepada anak sangat menentukan tumbuh kembang anak. Saat anak berusia dini juga sangat penting.

Jika terjadi Masalah negatif seperti sodomi yang terjadi baru baru ini, Rahmi Yetti menilai penegahan dan penanggulangan harus dilakukan dari akar nya. Orang tua harus tau apa kebutuhan anak. Jangan hanya mementingkan kemauan anak saja.

“Dari hasil penelitian saat kandungan berusia 20 minggu, jika sang ibu mengalami tekanan dan kekerasan maka tumbuh kembang anak akan terganggu. Apalagi jika penekanan dan kekerasan dalam pengasuhan anak tetap diteruskan maka anak tidak akan berkembang optimal,” ulasnya.

Berkaitan dengan isu penculikan anak saat ini Rahmi Yetti menyarankan harus dimulai pengawasan dari keluarga. Orang tua harus memberikan pemahaman kepada sang anak apa apa hal yang di waspadai dan cara menyelamatkan diri sendiri.

“Kartini tidak saja mengutamakan emansipasi wanita saja tapi Kartini menyadari seorang wanita harus memiliki kecakapan dan kemampuan yang bagus dalam mengelola rumah tangga. Bukan berarti seorang wanita harus setara ataw melebihi seorang laki-laki namun seorang wanita harus punya bekal dalam berumah tangga baik ekonomi maupun kecakapan pribadi sehingga tidak dianggap rendah dari laki-laki,” terangnya. (Dipra)

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer

Copyright © 2016 HaloBukittinggi

To Top