Ruang Publik

Makan Bajamba di Bukittinggi Tradisi Dari Nenek Moyang yang Turun Temurun

Pemerintah Kota Bukittinggi terus menjaga tradisi makan bajamba, hal itu dibuktikan setelah siang tadi menggelar kegiatan yang sama untuk yang kelima kalinya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bukittinggi, Selasa (20/12/2016), Melfi Abra mengatakan, makan bajamba merupakan budaya masyarakat minangkabau yang telah ada sejak nenek moyang dahulu, diterima secara turun temurun hingga sekarang.

“Jamba merupakan sajian makan atau hidangan makan, yang disajikan di dalam suatu wadah, bagi masyarakat kurai limo jorong atau penduduk asli Bukittinggi disebut pinggan,” ujarnya.

Didalam pinggan itu sambung Melfi Abra, berisi nasi dan samba atau menu, yang terdiri dari samba nan anam, yakni samba randang, samba anyang dagiang atau daging asam pedas, samba ikan pangek kuniang atau ikan gulai kuning, samba gulai ayam naneh atau nenas, taruang bulek bagoreng atau terong bulat digoreng, dan karupuak atau kerupuk tunjuk.

“Tradisi makan bajamba biasanya dilaksanakan pada upacara adat, keseluruhan samba itu merupakan adat kurai limo jorong, setiap jamba diisi enam orang, dan salah seorang diantaranya berfungsi sebagai janang,” jelasnya.

Menurut Melfi Abra, duduk dalam makan bajamba ini secara bersila, dengan posisi melingkari jamba, ketika menyuap nasi, nasi yang sudah berada di dalam mulut tidak boleh jatuh kedalam pinggan, maka dari itu saat menyuap nasi kepala harus ditegapkan.

Prosesi makan bajamba ini biasanya digelar selepas berlangsungnya sidang paripurna DPRD tentang Hari Jadi Kota (HJK) setiap tanggal 22 Desember, namun pada pelaksanaan kelima ini dimajukan, sehingga berlangsung lebih meriah dan menikmati jamba dengan jangka waktu yang lebih lama.(Dipra)

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer

Copyright © 2016 HaloBukittinggi

To Top