Ruang Publik

Ribuan Peserta Ikuti Prosesi Makan Bajamba di Jam Gadang Bukittinggi

Ribuan peserta mengikuti prosesi makan bajamba yang dilaksanakan Pemerintah Kota Bukittinggi siang tadi di pelataran jam gadang, kegiatan yang merupakan rangkaian peringatan hari jadi kota ke 232 itu berlangsung meriah, walaupun sempat diguyur hujan gerimis.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bukittinggi Melfi Abra mengatakan, 300 jamba disediakan dalam prosesi makan bajamba ini, 240 jamba dari 24 kelurahan, ditambah 60 jamba dari pihak perbankan, swasta, BUMN, BUMD, dan Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI).

“Dalam satu jamba terdapat enam menu lauk pauk yang keseluruhannya merupakan menu khas di Kurai Limo Jorong atau penduduk asli Bukittinggi, yang tradisi nya telah ada semenjak nenek moyang dahulu, yang diterima secara turun temurun sampai sekarang,” jelasnya, Selasa (20/12/2016)

Menurut Melfi Abra, jamba dari 24 Kelurahan dananya disiapkan pemerintah kota bukittinggi, untuk satu jamba dibantu dana 250 ribu rupiah, sedangkan dari pihak luar dibiayai secara pribadi, sumbangan dari pihak hotel, BUMN, dan BUMD.

“Kegiatan makan bajamba ini diadakan dengan tujuan menjaga tradisi budaya asli minangkabau, sekaligus ajang untuk memperkenalkan tradisi itu pada wisatawan yang berkunjung, dan diharapkan kedepan penyelenggaraannya lebih baik lagi,” tukasnya.

Sementara itu Wali Kota Bukittinggi M. Ramlan Nurmatias menuturkan, makan bajamba diadakan Pemerintah Kota Bukittinggi untuk melestarikan budaya tradisional, serta untuk menciptakan rasa kebersamaan dan keakraban antara Pemko Bukittinggi dan masyarakat.

“Biasanya prosesi makan bajamba diadakan Pemerintah Kota Bukittinggi pada tanggal 22 Desember bertepatan dengan Hari Jadi Kota (HJK), setelah berlangsung nya rapat istimewa DPRD, namun tahun ini dimajukan pelaksanaannya, dengan tujuan lebih meriah dan masyarakat dapat menikmati jamba yang tersedia dengan waktu yang lebih lama,” ujarnya.

Menurut M. Ramlan Nurmatias, masyarakat sangat antusias mengikuti prosesi makan bajamba ini, hal itu menandakan adat istiadat Bukittinggi masih dijaga terus keberadaannya hingga sekarang, karena warisan nenek moyang ini memang harus kita lestarikan bersama.(Dipra)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer

Copyright © 2016 HaloBukittinggi

To Top