Ruang Publik

Komoditas Cabe Merah Penyumbang Inflasi di Bukittinggi

Selama Bulan November hingga awal Desember 2016 ini, Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bukittinggi mencatat cabe merah masih menjadi komoditas penyumbang inflasi.

Kepala BPS Bukittinggi Faizal, menuturkan, cabe merah menjadi penyumbang inflasi dengan andil sebesar 0,71 persen. Maka dari itu Pemerintah Kota Bukittinggi perlu menindaklanjutinya, dengan mengendalikan harga terutama bagi komoditas yang memiliki bobot tinggi dalam perhitungan inflasi ini.

“Sementara itu beberapa komoditas lain yang juga mengalami inflasi yaitu beras, cabe hijau, bawang merah, tomat sayur serta beberapa komoditas. Di samping itu peningkatan harga juga terjadi pada rokok kretek filter, rokok kretek dan kopi bubuk,” terangnya, Jum’at (2/12/2016).

Menurut Faizal, Bukittinggi mengalami inflasi sebesar 1,07 persen pada November 2016 karena kenaikan indeks pada empat kelompok pengeluaran. Kenaikan itu terjadi di kelompok bahan makanan sebesar 3,73 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,67 persen, kelompok kesehatan sebesar 0,39 persen dan kelompok sandang sebesar 0,09 persen.

“Namun ada komoditas yang mengalami penurunan selama bulan itu di antaranya kentang, daging ayam ras, telur ayam ras, belut, gula pasir dan bahan bakar rumah tangga,” tukasnya.

Faizal menambahkan, dari 82 kota indeks harga konsumen (IHK), 78 kota mengalami inflasi dengan inflasi tertinggi terjadi di Kota Manado sebesar 2,86 persen.

“Bukittinggi sendiri berada di urutan ke tiga di Sumatera atau urutan ke lima dari seluruh kota IHK di Indonesia,” tukasnya.

Sementara itu Wali Kota Bukittinggi M Ramlan Nurmatias mengatakan, cabai merah merupakan salah satu komoditas yang sudah menjadi kebutuhan pokok warga Bukittinggi sehingga sering mengalami kenaikan harga terutama saat kondisi cuaca tidak mendukung.

Untuk mengatasi persoalan itu ia mengimbau warga serta aparatur sipil negara (ASN) setempat memanfaatkan pekarangan rumah menanam cabai merah dan komoditas sayuran lainnya.

“Paling tidak tanam lima sampai 10 batang di pekarangan, sudah cukup membantu mengurangi tingginya permintaan cabai merah di pasaran,” terangnya.(Dipra)

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer

Copyright © 2016 HaloBukittinggi

To Top