Ruang Publik

Vera Primadewi “Trabaz Untuk Aksi Peduli Kemanusiaan”

Selain digunakan untuk olahraga, sepeda motor trabas juga digunakan untuk beramal. Paling tidak itulah yang puluhan penghobi trabas yang tergabung dalam Tim Peduli Kemanusiaan Ikatan Alumni SMA (IASMA) 1 Bukittinggi.

Puluhan sepeda motor trabas jelang Idul Adha 1437 Hijriah lalu menyusuri jalan tanah berbatu menuju daerah terpencil yang ada di Agam. Tepatnya kawasan Limo Abuang, Kenagarian Pagadih, Kecamatan Palupuah. Raungan motor trabas terdengar saat menjajal jalanan yang belum tercicip aspal tersebut.

Tujuan rombongan Tim Peduli Kemanusiaan dari IASMA 1 Bukittinggi tersebut tengah melakukan survei ke daerah tersebut untuk menyumbangkan hewan ternak yang akan dikurbankan pada Idul Adha nanti.

Begitulah gambaran kegiatan yang dilakukan oleh rombongan tersebut sejak beberapa tahun terakhir. Selain memberikan bantuan kepada daerah-daerah yang terkena bencana alam, rombongan tersebut juga memberikan bantuan hewan ternak kepada daerah-daerah yang tidak melaksanakan kurban pada setiap Lebaran Haji tersebut.

Tentunya, sebelum melakukan sumbangan hewan ternak itu, rombongan ini terlebih dahulu mensurvei lokasi sekaligus meminta data lengkap dari pihak nagari setempat untuk memastikan ada tidaknya warga yang melaksanakan kurban.

Jika di wilayah tersebut tidak ada warga yang berkurban melalui mesjid atau mushala setempat, maka rombongan ini akan mencatat hal tersebut.

Vera Primadewi, salah seorang pentolan Tim Peduli Kemanusiaan Ikatan Alumni SMA (IASMA) 1 Bukittinggi mengaku, jika kegiatan tersebut sudah berjalan sejak tujuh tahun silam. Menurutnya setiap lokasi yang akan diberi hewan kurban, terlebih dahulu akan disurvei.

Minimal menurut perempuan yang akrab disapa Awi ini, sebanyak 24 hewan ternak atau Sapi disumbangkan untuk dijadikan hewan kurban pada Idul Adha tahun ini.

Sejauh ini sudah banyak lokasi-lokasi atau daerah yang sudah diberikan hewan sumbangan untuk dikurban. Terutama daerah yang masih tertinggal dan susah dijangkau oleh kendaraan roda dua maupun roda empat.

Sebut saja beberapa jorong yang ada di kenagarian Pagadih,  Buayan, Palembayan, Koto Tinggi,  serta beberapa daerah lainnya di Agam. Pemilihan daerah tersebut memang dikhususkan tersendiri sesuai dengan kesepakatan bersama.

Kegiatan tersebut terlaksana pertama kali sejak tahun 2009 silam, setelah pascagempa besar yang melanda kawasan Sumatera Barat saat itu.“Jadi waktu itu daerah Pariaman merupakan yang terkena dampak paling besar, awalnya saya mencoba memberikan bantuan ke sana dengan keluarga saja.

Namun saat itu mobil kami tidak bisa bisa menembus hingga ke lokasi. Akhirnya kami dibantu oleh komunitas sepeda motor untuk memberikan bantuan tersebut,” ungkap Awi saat ditemui di tempat butiknya di jalan lintas Bukittinggi-Padang, tepatnya di Kapeh Panji, Padanglua, Kabupaten Agam.

Beranjak dari situ, Awi memiliki pemikiranyang inovatif.  “Jika yang lain bisa seperti itu, kenapa kita tidak coba saja melakukan hal yang sama,” ungkap wanita yang hobi paralayang itu.

Akhirnya, setelah mengeluarkan gagasannya kepada teman-teman alumninya yang mendapat sambutan baik, dimulailah kegiatan tersebut. Selang tak berapa lama setelah gempa tersebut, tepatnya Lebaran Haji pada 2009, menjadi kegiatan pertama dari tim peduli kemanusiaan IASMA.

“Waktu itu prosedurnya sama. Di survei dahulu lokasinya, kemudian kita kumpulkan hewan-hewannya, baru diserahkan pada pihak nagari yang menjadi panitia kurban di lokasinya masing-masing,” terangnya.

Menurut Awi, daerah tertinggal menjadi tujuan utama untuk diberikan sumbangan. “Jadi saat survei tersebut kita pastikan dahulu apakah di sana ada yang kurban atau tidak. Jika tidak makan lokasi itu akan kita jadikan tujuan,” sebutnya.

Untuk daerah yang akan dipilih tersebut pun memiliki persyaratan khusus. Harus terdapat minimal sebanyak 60 Kepala Keluarga (KK).

“Jadi untuk satu sapi itu bisa diberikan kepada 60 KK. Maka dari itu syaratnya seperti itu,” ulasnya.

Untuk donator, tidak semuanya anggota IASMA, melainkan dari sumbangan donatur lain.

“Jadi khusus untuk hari raya kurban ini, kita juga ada panitianya. Nah, panitia ini lah yang nanti menerima dan mengumpulkan semua dananya. Prosesnya hampir sama dengan yang ada di masjid dan mushala lainnya. Jadi donatur boleh siapa saja yang ingin menyumbang untuk berkurban,” terangnya.

Untuk proses sumbangan itu menurut Awi juga membutuhkan tanggungjawab yang besar. Kegiatan itu harus dilaporkan kembali dengan bukti dokumentasinya.

Jadi saat hari H nya, ada minimal dua orang pada masing-masing tempat untuk mengawasi prosesi kurban tersebut sambil mengambil dokumentasi untuk dilaporkan kepada donatur.

Selain mendapatkan kepuasan setelah beramal dan berbagi antar sesama, banyak sekali manfaat yang diperolehnya. Sebut saja sebagai ajang refreshing ke lokasi-lokasi baru yang terkadang pemandangan alamnya menarik.

Ataupun sembari berpetualang sambil beramal hingga menaklukan rintangan sepanjang jalan yang sukar sekali ditempuh, belum lagi rasa kebersamaan yang muncul di antara sesama anggota yang semakin akrab.

“Meski begitu, beramal tetaplah tujuan utamanya. Membantu dan meringankan beban orang lain itu menjadi sebuah kepuasan batin tersendiri,” ucapnya sambil tersenyum.

Terkadang karena menempuh medan yang berat, tak jarang saat mengendarai motor trabas ada anggota rombongan yang terjatuh dan mendapatkan cedera. Hal itu juga dialami oleh Awi sendiri. Tapi saat berkendara mereka selalu memakai perlengkapan safety riding yang lengkap.

Terkadang  menurut Awi, spontanitas juga muncul dengan sendirinya saat ada anggota lainnya yang terjatuh dijalanan, apalagi dibengkolan yang rawan kecelakaan.

“Kadang kami kan konvoi-konvoi dalam perjalanan, tiba-tiba ada yang jatuh, anggota lainnya akan spontan saja untuk menolong, yang lainnya akan otomatis mengambil posisi masing-masing, ada yang mencoba menghentikan kendaraan lainnya dari kedua arah jalan, agar teman yang jatuh ini tidak ditabrak kendaraan lainnya, begitulah rasa persaudaraan itu muncul,” tuturnya.

Sejauh ini, sambung Awi, khusus dirinya selalu mendapatkan sokongan dari keluarga, baik orang tua, suami maupun anak-anaknya.

“Bahkan yang bikinin motor saya adalah suami saya sendiri,” tukasnya.(Dipra)

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer

Copyright © 2016 HaloBukittinggi

To Top