Ruang Publik

LP Kelas II A Bukittinggi Over Kapasitas Mencapai 200 Persen

Banyaknya jumlah tahanan dari berbagai kasus yang ditahan di Lembaga Permasyarakatan (LP) Kelas II A Bukittinggi, menyebabkan LP tersebut over kapasitas mencapai 200 persen.

Saat ini LP Kelas II A Bukittinggi dihuni sebanyak 428 orang  Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP), dengan rincian 421 orang WBP laki-laki dan 7 orang WBP wanita. Dari 428 orang WBP tersebut 352 orang narapidana dan 76 orang tahanan.

“Mencermati kapasitas hunian LP yang ada saat ini, maka terdapat over kapasitas yang mencapai 200 parsen. Seharusnya kapasitas hunian LP Kelas II A Bukittinggi hanya dapat menampung sebanyak 242 orang. Sementara saat ini dihuni sebanyak 428 orang” ujar Pelaksana tugas (Plt) Kepala LP Kelas II A Bukittinggi, Irwandi Saputra, Sabtu (19/8/2016).

Irawandi yang sebelumnya bertugas di Kantor Wilayah (Kanwil) Kementrian Hukum Dan HAM Sumbar ini menjelaskan, kapasitas hunian LP Kelas II A Bukittinggi seharusnya 242 orang terdiri dari 4 Wisma/Blok hunian yang mencakup 48 kamar. Namun saat ini dihuni sebanyak 428 orang WBP. 4 Wisma/Blok hunian tersebut terdiri dari Wisma Mawar, Wisma Anggrek, Wisma Melati dan Wisma Kamboja.

Untuk Wisma Mawar terdiri dari 22 kamar kapasitas dengan jumlah penghuni untuk 97 orang. Namun penghuni sekarang berjumlah 192 orang. Wisma Anggrek terdiri dari 10 kamar kapasitas dengan jumlah penghuni untuk 48 orang, dan sekarang dihuni 58 orang.

Untuk Wsma Melati terdiri dari 8 kamar kapasitas untuk 64 orang, dan penghuni sekarang berjumlah 133 orang. Untuk Wisma Kamboja terdiri dari 8 kamar kapasitas untuk 29 orang, dan sekarang dihuni sebanyak 43 orang. Khusus untuk Wisma Kamboja yang terdiri 8 kamar terbagi kedalam 2 jenis peruntukan, yakni 6 kamar untuk wisma pria dan  2 kamar untuk wisma wanita.

“Mencermati kapasitas hunian dari 4 Wisma/Blok hunian tersebut, terdapat over kapasitas mencapai 200 parsen,” terang Irwandi yang baru  mengemban tugas sebagai Plt Kepala LL Klas II A Bukittinggi sejak Juli 2016 lalu.

Irawandi menambahkan berbagai problem krusial dilingkungan LP Kelas II A Bukittinggi, seperti kondisi jalan masuk ke LP yang sangat memprihatinkan, tidak tersedianya sarana dan prasarana pengolahan dan pemusnahan akhir sampah, minimnya aktivitas pembinaan kemandirian, maupun pembinaan kepribadian bagi WBP, dan tidak adanya fasilitas pembiayaan pengobatan dan pemeliharaan kesehatan bagi WBP di rumah sakit.(Dipra)

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer

Copyright © 2016 HaloBukittinggi

To Top