Ruang Publik

Bosan Jadi Karyawan, Hendrizal Jualan Pulsa dengan Target Keliling Dunia

PHOTO: YUDI PRAMA AGUSTINO

Pagi itu, mendung bergayut di angkasa. Beberapa orang terlihat tergesa, setengah berlari di pelataran Jam Gadang. Diantara banyak yang ada, Nampak satu yang aneh. Seorang pria dengan sepeda butut, Ia berkayuh tenang mengelilingi ikonnya kota wisata itu.

Sekonyong-konyong, seseorang dari seberang berteriak,” Pulsa!”.

Si pria kaget, matanya mendelik kekiri dan kanan. Sesaat ia tersenyum, bergegas menghampiri pedagang yang memanggilnya.

Hendrizal (36), akrab disapa Hendri, sudah setahun terakhir menetap di Bukittinggi. Lebih tepatnya di Barumbuang, Kelurahan Aur Kuning. Selama itu, ia telah mengelilingi banyak sudut di Kota Bukittinggi untuk menjual pulsa yang jadi dagangannya dengan bersepeda.

“Lebih fleksibel berdagang dengan sepeda, kita bisa meliuk melewati jalanan yang tak bisa dilalui kendaraan lainnya. Untuk kesehatan juga baik,” ujarnya, Rabu (17/8/2016)

Dengan bermodal sepeda yang diberi plang bermerk Malala Pulsa Keliling Dunia, Hendri saban hari menelusuri pasar-pasar yang ada di kota Bukittinggi untuk menemui pelanggan yang setia menunggunya.

Sama sekali ia tak merasa lelah atau malu. Hebatnya, Hendri merasa bangga.

”Sudah terbiasa hidup keras, jadi ini tak seberapa. Selain itu, saya seorang sarjana yang bisa menciptakan lapangan pekerjaan sendiri,’’ ungkapnya bangga.

Awalnya, lulusan DIII Manajemen Informatikan UPI Padang ini sempat bekerja jadi guru di sebuah sekolah, waiter di restoran, beralih lagi jadi guide tour dan terakhir berdagang keripik balado.

Gempa besar yang melanda Sumatera Barat tahun 2007, membuat pria asal Bonjo Pasaman ini memutuskan berhenti untuk bekerja. Selain itu, ia pun sudah bosan menjadi karyawan. Akhirnya, Hendri mengambil keputusan untuk memulai usaha sendiri dengan berdagang pulsa keliling memakai sepeda di tahun 2008 akibat tingginya jiwa kewirausahaan pria berpembawaan riang itu.

“Saya yang pertama menjual pulsa keliling dengan sepeda di Padang,’’ cerita pedagang pulsa yang sepedanya pernah diserempet motor ini.

Saat itu modal awalnya masih kecil, hanya 200 ribu saja. Tak disangka, seiring berjalannya waktu, usahanya kian berkembang karena punya banyak kenalan sebab lama berjualan keripik keliling. Mulai dari pedagang, pegawai kantoran maupun masyarakat umum lainnya, menjadi langganan tetapnya.

Tak puas di Padang, pria yang beristri orang Painan, Pesisir Selatan itu, mencoba peruntungan dengan mengekspansi Bukittinggi.

“Lebih enak berjualan di sini. Bukittinggi punya banyak pasar sehingga pelanggan mudah ditemui,” ujarnya.

Tak hanya di Bukittinggi, Hendri juga sempat mencoba berdagang pulsa di Padang Panjang, Baso, maupun Batu Sangkar. Hanya saja, katanya, tak menjanjikan hingga ia putuskan untuk menetap di Bukittinggi dengan menyewa sepetak kamar kost.

Sekarang, Hendri mampu menjual pulsa hingga 2 juta perhari. Selain pulsa Handphone, ia juga menyelipkan token listrik guna mendongkrak penghasilan.

“Sehari, rata-rata penghasilan saya sekitar 90 ribuan lah,” ucapnya sambil menyeka keringat.

Selain pernah diserempet motor, ternyata banyak kesulitan yang dihadapi Hendri. Mulai dari cuaca, tanggapan negatif masyarakat terhadap masyarakat masih ia temui. Tak hanya itu, Hendri pun mengakui masih ada pelanggan yang tak mau membayar pulsanya. Tapi, ia memaklumi karena hal-hal seperti ini selalu ada di tengah masyarakat.

“Saya banyak belajar dari pengalaman seperti ini. Apalagi, yang sinis terhadap pekerjaan saya juga banyak. Mereka menganggap remeh profesi saya karena tak sesuai dengan gelar akademik. Tapi, berwirausaha jadi pilihan hidup bagi saya,” lanjutnya.

Saat ditanya kenapa sepedanya ia pasang merek Malala Keliling Dunia, Hendri berujar karena ia ingat kata Bung Karno pada masa silam tentang tak boleh berputus asa menggapai mimpi.

“Bung Karno berpesan, gapailah mimpimu setinggi langit. Jika kamu jatuh, maka kamu akan jatuh diantara bintang-bintang,’’ gumamnya.

Meski omzetnya terbilang jauh lebih kecil dibandingkan konter dan banyak yang sinis dengan usahanya, namun Hendri yakin jejaknya akan banyak ditiru orang dalam berwirausaha karena ini adalah panggilan jiwa yang tak bisa ditahan.

“Memulai semua usaha itu tak sulit. Mulailah dari yang kecil dan bikin kita nyaman, setelah itu kita harus yakin dan tak gampang menyerah,” pesannya.

Sekarang, setelah istrinya melahirkan, Ia akan memboyong keluarga kecilnya itu ke Bukittinggi dan berharap bisa membangun konter untuk memperbesar usaha, seraya mengajarkan kepada masyarakat jika hidup itu harus dijalani dengan hal-hal yang jadi dorongan dari dalam diri sendiri. (Dipra)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer

Copyright © 2016 HaloBukittinggi

To Top