Peristiwa

Pasca Rampok Mobil Teman, Dua Tersangka ini Diamankan Polres Bukittinggi

Aksi kejahatan teman makan teman dialami seorang pemuda bernama Heru (28), warga Jalan Cempedak, Kota Pekanbaru, Provinsi Riau.

Pemuda yang diketahui bernama Heru Suhendra ini mengalami babak belur, dan luka dan bengkak akibat pukulan benda keras pada bagian kepala, bahkan dia dibuang temannya itu di pinggir jalan di kawasan Sumani, dekat Danau Singkarak, Kota Solok Sumatera Barat.

Beruntung pemuda yang saat itu tengah tidak berdaya habis dikeroyok dan dibuang begitu saja ditolong oleh satu keluarga yang kebetulan melintas. Nyawa pemuda tersebut akhirnya dapat tertolong.

Informasi yang dihimpun di Satreskrim Polres Bukittinggi, kejadian yang menimpa anak dari pasangan Zulfia Yanti (67) dan Nanang Suhendra (64) itu, berawal saat dirinya ditemani dua temannya masing-masing berinisial AEP (34) dan AOP (25), serta dua orang lainnya yang masih dalam penyidikan hendak menuju tempat saudara ayahnya di Solok.

Dengan mengendarai satu unit mobil Fortuner bewarna putih dengan Nopol BM 1988 HS, ketiga orang ini mulai berjalan dari pekanbaru pada Senin (30/1/2017) sore lalu. Ditengah perjalanan dikawasan SPBU Baso Kabupaten Agam, kedua teman anak ketiga dari tujuh bersaudara ini mulai beraksi.

Perlahan tapi pasti, kedua teman Heru AOP dan AEP serta dua orang yang masih belum diketahui identitasnya itu mulai beraksi. Korban mulai dianiaya diatas mobil oleh kedua temanya tersebut sembari memukul kepala korban. Bahkan korban tak bisa memberikan perlawanan karena salah seorang dari keempat orang lainnya itu menodongkan senjata api kepada korban.

Penganiayaan yang dialami korban berlanjut hingga sampai kawasan Sumani. Disitu, dalam kondisi mobil masih berjalan, korban tiba-tiba dilempar keluar mobil dan terhempas diatas aspal. Korban yang saat itu tidak berdaya hanya bisa menunggu nasib sambil berharap ada yang menolong.

“Kira-kira saat saya dilempar sekira pukul Selasa dinihari sekira pukul 00.00 wib, beruntung tak lama kemudian ada satu keluarga menggunakan mobil melintas dan mendapati saya dalam kondisi tak berdaya. Merekalah yang akhirnya menolong saya dan mengantarkan saya pada rumah tante saya di Solok,” ujar korban saat ditemui di Mapolres Bukittinggi, Rabu 1 Februari 2017 dini hari tadi.

Tak banyak keterangan yang bisa diungkapkan oleh korban kepada awak media, karena kondisi korban  masih mengalami shock dan trauma serta menderita luka lebam dan goresan pada bagian kepala dan wajah.

Dilain pihak, Ibu korban Zulfia Yanti kepada awak media menjelaskan, jika dirinya hanya mengetahui anak ketiganya itu hendak pergi kerumah adik sang ayah ke Solok bersama dua temannya yang lain yang bahkan sudah dianggap sendiri seperti sanak saudara oleh keluarga Zulfia.

Namun, Zulfia juga terkejut saat anaknya menjadi korban penganiayaan oleh pelaku sebanyak empat orang.

“Kata anak saya mereka ada empat orang, yang dua lagi saya tidak kenal dan tidak tahu. Kalau yang dua teman anak saya itu mereka sudah biasa kerumah, bahkan sering nginap juga dirumah, makanya saya tidak melarang anak saya pergi,” terangnya.

Meski tidak melarang anaknya pergi bersama dua temannya yang lain, namun Zulfia sempat berfirasat buruk saat anaknya akan berangkat.

“Saya juga sudah peringatkan kepada anak saya untuk berhati-hati dan jangan begitu saja percaya kepada orang, entah kenapa saat akan berangkat itu hati saya merasa lain saja  dan curiga pada teman anak saya itu, ternyata firasat saya tidak salah,” tukasnya.

Zulfia menerangkan, jika anak ketiganya yang diketahui lahir pada tahun 1989 silam itu mengalami sakit kejang-kejang sejak empat tahun silam. Oleh karena itu, seluruh pihak keluarga agak terlalu menjaga dan mengawasi anaknya tersebut, karena takut penyakitnya kambuh kapan saja.

“Oleh karena itulah sejak dia berangkat pada Senin sore itu saya selalu usahakan untuk kontak dia melalui ponselnya, awalnya sih hingga Payakumbuh semua aman-aman saja, tetap dia yang angkat telfon. Sekira pukul 23.30 WIB yang angkat telfon saya itu bukan anak saya lagi, tapi temannya. Kata temannya itu anak saya sedang dikamar mandi. Hati saya sudah mulai tidak tenang, tak lama saya coba hubungi lagi, ternyata ponselnya sudah tidak aktif,” terangnya.

Setelah menunggu dengan hati cemas, akhirnya Selasa Dinihari sekira pukul 00.30 WIB, dia mendapatkan telfon dari adik suaminya sekaligus tante dari anaknya itu yang merupakan tujuan tempat anaknya tersebut hendak pergi.

“Dari situlah saya tahu jika anak saya sudah dianiaya dan mobil serta uang dan ponselnya dicuri oleh temannya, setelah mendapatkan informasi dari adik suami saya itu, saya bersama suami dan anak saya yang lain langsung berangkat menuju Solok,” terangnya.

Setiba di Solok pada paginya, Heru ditemani oleh keluarganya melapor kepada pihak kepolsian terdekat.

“Namun karena kejadiannya berawal di Baso, akhirnya kami disuruh melapor di Polres Bukittinggi. dan kami akhirnya pun melaporkan kejadian ini ke Polres,” tukasnya.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Bukittinggi AKP Joko Hendro Lesmono menyebutkan, korban tidak hanya menjadi korban penganiayaan, tapi juga menjadi korban pencurian.

“Jadi korban ini selain dianiaya, mobilnya juga diambil, serta uang tunai dan beberapa unit handphone milik korban juga ikut dilarikan pelaku,” ujarnya.

Menurut Joko Hendro Lesmono, setelah mendapatkan laporan dari korban, pihaknya langsung berkoordinasi dengan semua jajaran Polres lainnnya.

“Jadi kami dapatkan informasi mobil ini berada dikawasan Padang Pariaman, dengan bekerjasama Polresta Padang, Polres Padang Pariaman dan Polsek Batang Anai, akhirnya dua pelaku berhasil ditangkap disebuah kedai di kawasan Padang Pariaman pada Selasa sore, pelaku langsung kita bawa ke Bukittinggi untuk dimintai keterangan,” jelasnya.

Joko Hendro Lesmono menambahkan, dua orang lainnya yang diduga sebagai oknum TNI sedang dalam penyidikan.

“Informasi dari kedua pelaku begitu, namun untuk pastinya masih kita dalami, kita tidak mau ceroboh dalam hal ini,” ujarnya.

Kedua pelaku yang berhasil ditangkap tersebut terang kasat, diancam dengan Pasal 365 KUHP tentang pencurian dengan kekerasan, dengan ancaman hukuman 12 tahun kurungan.(Dipra)

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer

Copyright © 2016 HaloBukittinggi

To Top