Kesehatan

Data Dinas Kesehatan, AKI dan AKB di Bukittinggi Masih Tinggi

Data dari Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi mencatat hingga saat ini Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) masih relatif tinggi. Jumlah kematian ibu dan bayi itu selama tiga tahun terakhir cenderung meningkat.

Wakil Walikota Bukittinggi Irwandi, Senin (14/11/2016), mengatakan, AKI dan AKB merupakan salah satu indikator penting dalam menilai tingkat derajat kesehatan suatu negara. Oleh karena itu pemerintah memerlukan upaya yang sinergis dan terpadu untuk mempercepat penurunan AKI dan AKB di Indonesia.

“Pembangunan Kesehatan tidak akan berhasil tanpa dukungan dari semua elemen masyarakat, lintas sektor/ lintas program, instansi terkait, organisasi profesi dan lain-lain,” ujarnya.

Menurut Irwandi langkah strategis dalam rangka penurunan angka kematian ibu dan bayi yang sangat penting untuk dilakukan, sebagai bentuk koordinasi yang dibangun Pemko Bukittinggi maupun dengan seluruh mitra Pemerintah. Dalam rangka tercapainya Bukittinggi sehat, mandiri, berkualitas dan berkeadilan.

“Disamping itu juga untuk mensinergikan serta memberi dukungan, peran serta aktif dan kontribusi terhadap program-program pembangunan kesehatan terutama dalam upaya penurunan AKI dan AKB,” terangnya

Sementara Kepada Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi Syofias Dasmauli menyatakan, di Bukittinggi tahun 2013 tidak ada kematian ibu, tahun 2014 hanya 1/2407 kelahiran hidup, sedangkan tahun 2015 meningkat drastis menjadi 7/2423 kelahiran hidup dan tahun 2016 sampai bulan September berjumlah 3/1749 kelahiran hidup.

“Sedangkan kematian bayi tahun 2013 sebanyak 8,40/1000 Kh, tahun 2014 sebanyak 7,90/ 1000 Kh, tahun 2015 naik menjadi 14,40/1000 Kh. Angka ini cukup tinggi dibanding tahun-tahun sebelumnya. Ini merupakan masalah serius yang perlu segera ditangani,” jelasnya.

Lebih lanjut Syofia Dasmauli mengatakan, 2/3 penyebab kematian Ibu dan Bayi karena penanganan sebelum melahirkan. Penyebabnya kompetensi petugas kesehatan yang belum optimal, peran tamatan institusi kesehatan seperti Stikes yang belum optimal dan belum siap.

“Dari sisi ibu hamil sendiri disinyalir masih kurangnya pengetahuan si ibu dari segi gizi dan pemeriksaan kesehatan yang lengkap, kehamilan tidak memperhatikan faktor umur, postur tubuh dan fisik ibu. Ditambah lagi masyarakat sekitar yang kurang peduli akan keberadaan ibu hamil dilingkungannya,” ujarnya.

Bayangkan saja ada ibu hamil yang meninggal saat melahirkan tapi masyarakat sekitarnya tidak mengetahui kalau yang bersangkutan ternyata sedang hamil. Dan faktor kendala lain lanjut Syofia Dasmauli adalah dana pelayanan kesehatan yang hanya 10 persen dan dirasa belum optimal.

Fasilitas kesehatan di Bukittinggi sudah cukup lengkap demikian juga jumlah tenaga kesehatannya. Tinggal kepedulian masyarakat terhadap keberadaan ibu hamil dan ibu melahirkan dan bayinya. Masyarakat harus lebih peduli dan perhatian terhadap keberadaan ibu hamil di lingkungannya. Kepedulian itu diwujudkan dengan memperhatikan kondisi ibu hamil, peduli dengan kesehatannya, peduli dengan gizinya, peduli dengan persiapan melahirkannya, sigap dan siap menolong jika ada proses kelahiran, siap mendonorkan darahnya bagi ibu melahirkan yang membutuhkan.(Dipra)

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer

Copyright © 2016 HaloBukittinggi

To Top